Jl. Jayanegara RT. 05 RW. 06, Candirenggo, Singosari , MALANG Indonesia

Perempuan milenial hidup di persimpangan zaman yang paradoksal. Di satu sisi, mereka menikmati akses teknologi, informasi, dan peluang ekonomi yang belum pernah sebesar ini. Di sisi lain, mereka juga menghadapi kerentanan finansial yang kerap tersembunyi di balik narasi kemandirian dan kebebasan pilihan. Dalam konteks inilah literasi keuangan menjadi isu krusial—bukan sekadar kemampuan mengelola uang, tetapi juga alat pembebasan sosial dan ekonomi.

Secara konseptual, literasi keuangan mencakup pemahaman tentang perencanaan anggaran, pengelolaan utang, investasi, dan perlindungan risiko. Namun, seperti diingatkan Amartya Sen melalui pendekatan    capability, kemampuan ekonomi tidak cukup diukur dari akses, melainkan dari kapasitas nyata individu untuk menggunakan akses tersebut secara bermakna. Banyak perempuan milenial memiliki akun bank, dompet digital, dan aplikasi investasi, tetapi tidak selalu dibekali pemahaman kritis atas risiko dan implikasinya.

Fenomena paylater, pinjaman online, dan investasi instan menjadi contoh nyata. Produk-produk ini dipasarkan dengan bahasa yang ramah dan visual yang menarik, seringkali menyasar perempuan muda sebagai konsumen aktif. Tanpa literasi keuangan yang memadai, kemudahan ini justru berubah menjadi jerat. Data pemberitaan beberapa tahun terakhir menunjukkan meningkatnya kasus utang konsumtif dan tekanan psikologis akibat gagal bayar, yang sebagian besar dialami oleh generasi produktif, termasuk perempuan.

Di sisi lain, budaya sosial juga berperan membentuk relasi perempuan dengan uang. Simone de Beauvoir pernah menegaskan bahwa ketergantungan ekonomi adalah salah satu fondasi ketimpangan gender. Meskipun perempuan milenial lebih banyak bekerja dan berpenghasilan sendiri, norma sosial masih sering menempatkan mereka sebagai “pengelola pengeluaran”, bukan pengambil keputusan finansial strategis. Investasi, aset produktif, dan perencanaan jangka panjang kerap dianggap wilayah maskulin.

Saya melihat persoalan literasi keuangan perempuan milenial tidak bisa dilepaskan dari struktur ini. Program edukasi keuangan yang ada sering bersifat teknis dan netral gender, padahal pengalaman finansial perempuan sangat spesifik: jeda karier karena reproduksi, beban kerja domestik yang tak berbayar, hingga tekanan sosial untuk tetap konsumtif demi citra. Tanpa perspektif ini, literasi keuangan hanya menjadi slogan.

Namun, peluang tetap terbuka lebar. Media sosial, komunitas daring, dan figur perempuan yang berbagi pengalaman finansial secara jujur telah menciptakan ruang belajar alternatif. Dari diskusi tentang emergency fund  hingga kesadaran berinvestasi secara etis, perempuan milenial mulai membangun narasi keuangan yang lebih otonom dan reflektif.

Literasi keuangan, pada akhirnya, bukan tentang menjadi kaya secepat mungkin, melainkan tentang memiliki kendali atas pilihan hidup. Ketika perempuan milenial mampu memahami dan mengelola uangnya dengan sadar, mereka tidak hanya memperkuat ketahanan pribadi, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan sosial yang lebih adil dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *