Kupikir nasibku didunia ini adalah orang paling malang, tapi nyatanya aku masih memiliki setitik terang. Kuingat saat itu aku dipinang oleh seorang duda dari Malang, betapa bahagianya diriku masa lajang yang menjadi momok bagi gadis desa terpencil akhirnya akan segera berakhir. Keluargaku adalah Transmigran di pulau ini tentu hal yang menakutkan tidak memiliki keluarga besar dan teman sepermainan akhirnya dengan senang hati kuterima lamarannya, meski dengan berbagai dalihnya kami hanya menikah secara agama, tidak ada pernikahan secara negara. Tapi aku meyakini bahwa dia orang baik yang akan memperlakukan aku dengan baik juga.
Beberapa saat kemudian aku hamil dan melahirkan, seorang bayi perempuan yang sangat aku sayangi, Ketika bayiku sudah balita dan masuk Taman Kanak-kanak, suamiku mengajak pindah ke pulau Jawa di daerah asalnya, tentu saja aku sangat senang karena kupikir ini akan menjadi titik balik dalam hidupku menjadi benar benar seorang ibu rumah tangga. Tetapi aku juga memikirkan kepindahan sekolah anakku yang pasti bakal kesulitan. Sehingga kutunda keinginan itu hingga anakku masuk Sekolah Dasar.
Waktu demi waktu berlalu, kepulangan kami ke pulau Jawa dan berkumpul dengan keluarga suami di Malang ternyata tidak memberikan perubahan ekonomi bagi keluarga kami. Apalagi dari rahimku kembali hadir seorang bayi laki-laki. Sungguh berat rasanya saat itu, dengan kondisi ekonomi pas pas an tinggal dengan mertua dan dengan dua anak kecil, sungguh bukan hal yang mudah kujalani.
Akhirnya dengan berat hati ketika anak kedua kami sudah bisa disapih, akupun pergi merantau ke tanah seberang demi sesuap nasi, hingga beberapa bulan berlalu dan aku pulang setiap ada cuti dari majikan 2 tahun sekali. Berat rasanya jauh dari suami dan anak terutama, tapi apa daya demi perbaikan ekonomi kulakukan hal itu.
Saat dunia ini dilanda pandemi covid, maka aku tidak bisa pulang ke Indonesia, berat sekali rasanya. Apalagi ketika aku mendapat kabar lewat HP dari anakku yang pertama yang mulai remaja, sebelumnya anakku tidak ada yang pegang HP hanya untuk kepentingan sekolah maka ia pegang HP. Tetapi itu juga membawa kabar buruk buatku di negeri Seberang, bagaimana anak perempuanku mendapat perlakuan tidak beretika dari ayahnya, semula sebagaimana lazimnya seorang ayah yang mencium anaknya itu biasa saja karena tanda kasih sayang, tapi lama-lama ciuman itu berubah menjadi ciuman nafsu layaknya orang dewasa sampai terjadi hubungan badan, anakku menjadi merasa tidak nyaman karena menganggap bahwa yang sudah dilakukan ayahnya bukanlah hal yang wajar, dia enggan berada dirumah untuk menghindari bertemu ayahnya, sehingga sering keluar hingga larut malam dengan teman-temannya.
Duniaku terasa runtuh, Ketika suatu hari aku mendapat cerita dari anakku lewat telepon genggam bagaimana ayahnya memeperlakukan dia, aku tidak terima, aku ingin berontak, memaki-maki, menangis, berteriak, untuk menghilangkan semua sesak. Tapi apa daya, aku berada dinegeri orang sekarang. Setelah emosiku agak mereda aku mencoba menghubungi kepala desa ditempat suamiku tinggal. Kuceritakan apa yang sudah diceritakan lagi oleh anak perempuanku. Kepala desa bertindak, memanggil suamiku ke kantor desa untuk diminta keterangan, dan ketika suamiku tidak menampik hal tersebut kepala desa dan perangkat akan membawa suamiku ke kantor polisi, tapi suamiku ijin pulang dulu untuk berganti sandal karena merasa tidak layak, dan dengan tanpa prasangka kepala desa mengijinkan pulang sebentar, yang sebenarnya dia kabur melarikan diri dari tanggungjawabnya. Tentu saja pihak desa kalang kabut.
Aku yang berada jauh dinegeri seberang mendengar hal tersebut, perasaanku menjadi lebih kacau balau, apalagi anakku yang laki-laki masih duduk di Taman kanak-kanak, bingung harus bagaimana. Anak perempuanku sudah dalam perlindungan desa, tapi bagaimana dengan nasib anak laki-laki. Saat itu mendadak kuingat seorang mantan suami guru yang aku kenal di pulau Borneo adalah orang yang asalnya dari ujung timur pulau Jawa. Aku coba hubungi dia untuk menitipkan anakku yang laki-laki. Syukurlah dia bersedia mengambil dan mengasuh anakku yang kedua.
Kini hidupku hanya untuk bekerja agar bisa memberi makan ibuku yang mulai menua dan anakku yang kedua yang diasuh oleh orang lain yang tidak ada hubungan kerabat sama sekali. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan berada di negeri Singa ini, sampai aku tidak sanggup lagi bekerja atau ada hal lain yang akan mengubah takdirku. Entahlah…..

